<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Raas Kita</title>
	<atom:link href="http://raaskita.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://raaskita.wordpress.com</link>
	<description>Merekatkan Silaturahim Orang Raas</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jan 2009 18:26:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='raaskita.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Raas Kita</title>
		<link>http://raaskita.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://raaskita.wordpress.com/osd.xml" title="Raas Kita" />
	<atom:link rel='hub' href='http://raaskita.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sumiati: Srikandi Indonesia dari Panggung</title>
		<link>http://raaskita.wordpress.com/2009/01/31/sumiati-srikandi-indonesia-dari-panggung/</link>
		<comments>http://raaskita.wordpress.com/2009/01/31/sumiati-srikandi-indonesia-dari-panggung/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2009 18:25:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raaskita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Tokoh Raas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raaskita.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Pada akhir tahun 2007, Hj. Sumiati menerima penghargaan sebagai Juara Pertama Pembina Tenaga Kerja Wanita Terbaik dari Presiden RI Susilo Bambang Yodoyono. Prestasi ini tentu tidak mudah diraihnya; perlu perjuangan tiada henti. Berawal dari hobi membuat kerajinan kalung dan gelang, akhirnya menjadi usaha dan mampu mempekerjakan ratusan karyawan. Putri pasangan H. Nurwahid (alm.) dan Asmawati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raaskita.wordpress.com&amp;blog=3837415&amp;post=68&amp;subd=raaskita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-70" title="hj_sumiati-341x3001" src="http://raaskita.files.wordpress.com/2009/01/hj_sumiati-341x3001.jpg?w=174&#038;h=152" alt="hj_sumiati-341x3001" width="174" height="152" />Pada akhir tahun 2007, Hj. Sumiati menerima penghargaan sebagai Juara Pertama Pembina Tenaga Kerja Wanita Terbaik dari Presiden RI Susilo Bambang Yodoyono. Prestasi ini tentu tidak mudah diraihnya; perlu perjuangan tiada henti. Berawal dari hobi membuat kerajinan kalung dan gelang, akhirnya menjadi usaha dan mampu mempekerjakan ratusan karyawan.</p>
<p style="text-align:justify;">Putri pasangan H. Nurwahid (alm.) dan Asmawati ini sejak remaja menyukai seni desain. Hobinya membuat kerajinan gelang dan kalung dengan menguntai kerang dan mutiara berhasil menghasilkan kreativitas yang selalu segar. Di masa itu, di daerah asalnya Madura, kerajinan kerang dan mutiara belum mengundang banyak peminat. Namun kenyataan itu tidak mengurangi semangatnya untuk terus mencari celah untuk menciptakan sesuatu yang unik dari kerang dan mutiara.<span id="more-68"></span></p>
<p style="text-align:justify;">“Pada tahun 1979 saya memberanikan diri datang ke Bali seorang diri. Saya banyak mendengar kerajinan Bali begitu indah dan sangat terkenal. Terbesit keinginan saya untuk belajar dan mencari pengalaman di Bali,” ujar perempuan kelahiran Madura, 21 Juli 1963 ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan bermodalkan perhiasan emas bekal dari orangtuanya, Sumiati mencoba mengadu nasib di Kuta, pusat wisata paling ramai di Pulau Dewata. Walau usianya saat itu baru menginjak 20 tahun, dan belum memiliki pengalaman usaha yang memadai, Sumiati yakin ia mampu menembus pasar setempat.</p>
<p style="text-align:justify;">Langkah awal yang diambilnya adalah menyewa sebuah kios di Pasar Seni Kuta. “Saya menjual anting, gelang dan kalung berbahan kerang yang saya desain sendiri. Melihat prospeknya yang lumayan bagus, saya pun kemudian memberanikan diri mengajak karyawan lima orang,” tuturnya.</p>
<p><strong>Pintu Terbuka Ke Pasar Mancanegara</strong></p>
<p>Nasib baik berpihak padanya. Seorang wisatawan asal Amerika Serikat yang mengunjungi kiosnya begitu terkesan oleh kreasi Sumiati sampai akhirnya ia memborong 3000 pasang gelang. Dari obrolan langsung dengan tamunya itu, Sumiati kian yakin usaha kerajinannya akan laris.<br />
Jumlah pedagang kerajinan di Pasar Seni Kuta pada awal tahun 1980an itu belumlah sebanyak sekarang. Ia dengan demikian beruntung ‘menang start’ dalam meraih kepercayaan pembeli dari luarnegeri. Warga Amerika itu menjadi langganan, setiap tiga bulan datang ke kiosnya untuk membeli 5.000 pasang kalung. Ini berjalan tetap sampai pada suatu saat harus ambil keputusan untuk memperbesar kemampuan produksinya supaya lebih gesit memenuhi pesanan.<br />
Pada tanggal 6 Agustus 1991, ia membentuk badan usaha CV Sumiati dengan memperbesar jumlah tenaga kerja menjadi 12 orang. Produksi utamanya adalah gelang, kalung dan anting-anting yang terbuat dari manik-manik, ditambah dengan berbagai bentuk kreasi suvenir dari kulit kerang dan kulit mutiara.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkat kesungguhannya dan ketekunanannya, dari tahun ke tahun pesanan terus meningkat. Terbuka peluang bagi dirinya untuk memperluas wawasan usahanya sehingga pada bulan Februari 1997 bdan usahanya diubah menjadi PT Sumiati Ekspor Internasional. Badan usahanya ini waktu itu mampu menampung hingga 850 orang karyawan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sampai saat ini, kerajinan yang kami produksi hampir 95% materialnya merupakan hasil sumber alam dalam negeri, hanya 5% yang impor. Hasil produksi dijual 100% ke luar negeri, antara lain ke Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Spanyol, Polandia, Prancis, Italia, New Zealand, Thailand dan Kanada,” ujarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada perkembangannya hingga penghujung tahun 1990an, Sumiati telah meragamkan hasil produksinya dengan aneka benda kerajinan dari bahan baku keramik, lilin, kayu dan kaca.</p>
<p>Kenyamanan Kerja Karyawan Kunci Keberhasilan<br />
Bersama adiknya, Saehol Arifin, yang menjabat wakil direktris, Hj. Sumiati mengaku punya kiat pribadi untuk tetap eksis di tengah maraknya persaingan. Ia konsisten mempertahankan kualitas terbaik pada segala sisi produksi sambil mengimbanginya dengan manajemen yang efektif ke dalam maupun ke luar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bagaimana menciptakan standar tempat kerja yang nyaman bagi karyawan, termasuk menjamin kebersihan, kesehatan, dan keselamatan kerja, sangat saya perhatikan. Pelayanan kepada karyawan yang baik juga meliputi jam kerja, gaji, cuti, jaminan kesehatan dan kematian,” ujar Sumiati.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak mengherankan banyak karyawannya memiliki masa kerja yang lama di perusahaannya, karena mereka merasa betah. Belum lagi untuk meningkatkan wawasan dan keterampilan semua karyawan, Sumiati menyediakan pelatihan penggunaan komputer dan internet. Seiring dengan itu, Sumiati selalu memantau perkembangan di pasar dan lapangan agar mampu mengambil keputusan yang relevan setiap saat.  Pada hitungan di akhir tahun 2007, Sumiati mempekerjakan 523 orang karyawan, 391 perempuan dan 132 laki-laki.</p>
<p style="text-align:justify;">Bukan hanya memperhatikan karyawan, kepada masyarakat pun Sumiati mempunyai perhatian nyata. Bhakti sosial merupakan bagian yang menyatu dengan jati PT Sumiati Ekspor Internasional. Setiap tahun perusahaan ini menyediakan beasiswa bagi murid-murid tak mampu, akses pendidikan bagi anak-anak yatim-piatu, mendukung program-program bagi penyandang cacat, menyumbang maupun meneruskan sumbangan bagi para korban gempa Yogyakarta, serta menyelenggarakan kegiatan bagi-ilmu dengan para pemasoknya tentang bagaimana meningkatkan kinerja perusahaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumbangan nyata yang diberikan perusahaan Sumiati dalam menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat mendatangkan pengakuan pertama dari Pemerintah pada tahun 2006, ketika ia meraih Juara II Pembina Tenaga Kerja Wanita Terbaik 2006. Pada tahun berikutnya, berkat kemajuan lebih lanjut yang dicapai perusahaannya dalam membina tenaga kerja, ia akhirnya tampil sebagai Juara Pertama Pembina Tenaga Kerja Wanita Terbaik Nasional. Penghargaan secara langsung diserahkan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di Gedung Sasongko Wiguna, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.<br />
Selain aktif sebagai anggota Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) sejak tahun 2001, PT Sumiati Ekspor Internasional sedang dalam proses menjadi anggota International Fair Trade Association. Asosiasi ini beranggotakan 150 perusahaan perdagangan di seluruh dunia. Untuk mencapai target ini Sumiati harus terus berupaya mewujudkan standardisasi kerja yang dipatokkan, seperti tidak menggunakan bahan baku ilegal, tidak mempekerjakan karyawan di bawah umur, berpegang pada standar dunia dalam kebersihan, kesehatan, keselamatan kerja, dan kesehatan finansial karyawan, termasuk pengolahan limbah.</p>
<br />Posted in Profil Tokoh Raas  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raaskita.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raaskita.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raaskita.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raaskita.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raaskita.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raaskita.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raaskita.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raaskita.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raaskita.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raaskita.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raaskita.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raaskita.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raaskita.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raaskita.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raaskita.wordpress.com&amp;blog=3837415&amp;post=68&amp;subd=raaskita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raaskita.wordpress.com/2009/01/31/sumiati-srikandi-indonesia-dari-panggung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">raaskita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://raaskita.files.wordpress.com/2009/01/hj_sumiati-341x3001.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">hj_sumiati-341x3001</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kucing Raas: Ras Kucing Asli Indonesia</title>
		<link>http://raaskita.wordpress.com/2008/05/29/kucing-raas-ras-kucing-asli-indonesia/</link>
		<comments>http://raaskita.wordpress.com/2008/05/29/kucing-raas-ras-kucing-asli-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 May 2008 04:50:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raaskita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar Raas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raaskita.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Tidak semua orang Indonesia menyadari bahwa negaranya adalah salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Padahal beberapa spesies  flora dan fauna baru banyak ditemukan di negara kita. Begitu pula kucing, sifat geografi negara kepulauan menyebabkan ada sekumpulan kucing yang berkembangbiak disebuah pulau kecil. Perkembangbiakan tersebut berlangsung terus menerus dan  kemurnian genetiknya secara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raaskita.wordpress.com&amp;blog=3837415&amp;post=18&amp;subd=raaskita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="size-medium wp-image-19 alignleft" style="float:left;" src="http://raaskita.files.wordpress.com/2008/05/koceng_busok.jpg?w=170&#038;h=125" alt="" width="170" height="125" /><span style="font-family:Tahoma;">Tidak semua orang </span><span style="font-family:Tahoma;">Indonesia</span><span style="font-family:Tahoma;"> menyadari bahwa negaranya adalah salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. </span><span style="font-family:Tahoma;" lang="PT-BR">Padahal beberapa spesies  flora dan fauna baru banyak ditemukan di negara kita. Begitu pula kucing, sifat geografi negara kepulauan menyebabkan ada sekumpulan kucing yang berkembangbiak disebuah pulau kecil. Perkembangbiakan tersebut berlangsung terus menerus dan  kemurnian genetiknya secara alami tanpa campuran gen dari kucing-kucing lain.  Siapa sih yang tidak bangga kalau negara kita ini punya ras kucing asli Indonesia yang diakui  &#8220;perkucingan&#8221; tingkat dunia ?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;" lang="FI">Yang pasti, negara tercinta ini mempunyai satu ras kucing asli. </span><span style="font-family:Tahoma;" lang="SV">Bukan ras &#8220;kampung&#8221; yang sering berkeliaran di pasar-pasar. Bukan juga ras Javanese atau balinese yang menggunakan nama pulau di negara kita. Ras kucing asli Indonesia ini, hidup dan berkembang biak di Madura.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;" lang="SV">Seperti halnya ras anjing Kintamani yang awalnya hanya berkembangbiak di pulau Bali, kucing madura juga berkembang biak di sebuah pulau kecil bernama Raas yang terletak di sebelah timur pulau Madura.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;" lang="SV">Kucing Raas ini mempunyai </span><span id="more-18"></span><span style="font-family:Tahoma;" lang="SV">bentuk tubuh yang menyerupai leopard. Saat ini telah diketahui dua warna yang sering terdapat pada kucing raas, yaitu: buso dan kecubung. Buso adalah bahasa setempat untuk warna abu-abu (<em>blue</em>) seperti yang terdapat pada ras <em>rusian blue</em> atau <em>british shorthair</em>. Sedangkan kecubung  adalah istilah setempat yang diberikan bagi kucing yang berwarna coklat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;" lang="SV">Informasi mengenai keberadaan kucing Raas telah menarik perhatian dua klub penggemar kucing yang ada di Indonesia. Masing-masing klub ini menginginkan agar kelestarian kucing tersebut tetap terjaga dan menjadikan kucing Raas sebagai ras kucing yang diakui masyarakat perkucingan dunia. Cita-cita ini memerlukan perjuangan yang sangat berat dan memerlukan waktu bertahun-tahun. Diperlukan  program pengembangbiakan kucing yang ketat dan terencana untuk menghilangkan  atau meminimalkan cacat genetik sekaligus menstabilkan sifat-sifat genetik yang merupakan ciri khas.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;" lang="SV">Adat istiadat dan kepercayaan setempat mendukung kemurnian ras kucing ini. Kucing ini ternyata merupakan komoditi penting bagi pejabat maupun pemuka di daerah, karena mempunyai arti dan nilai khusus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;" lang="IN">Perkembangbiakannya hanya terjadi di pulau Raas dan sangat dilindungi oleh penduduk setempat. Hanya kucing jantan yang telah dikebiri yang diizinkan untuk dibawa keluar pulau. Kelahiran anak kucing warna abu-abu selalu dinantikan untuk diberikan sebagai hadiah kepada orang-orang tertentu ataupun penyayang kucing karena memang sangat diminati.<br />
Dengan adanya perlakuan khusus dari penduduk setempat dalam hal penyebarannya keluar pulau Raas, kemungkinan besar tidak akan terjadi perkembangbiakannya atau persilangan dengan kucing lain ditempat yang baru. Tetapi perkembanganbiakan yang terjadi di pulau Raas itu sendiri belum dapat dipastikan, karena diduga terjadi secara alami tanpa adanya pengawasan atau perlakuan khusus dalam pembiakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;" lang="IN"><strong>Sumber</strong>: Cat Fancy  Indonesia dan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;" lang="IN">http://kucingkita.com/modules.php?name=Sections&amp;op=viewarticle&amp;artid=53 (akses, 29 Mei 2008)</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/raaskita.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/raaskita.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raaskita.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raaskita.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raaskita.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raaskita.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raaskita.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raaskita.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raaskita.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raaskita.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raaskita.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raaskita.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raaskita.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raaskita.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raaskita.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raaskita.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raaskita.wordpress.com&amp;blog=3837415&amp;post=18&amp;subd=raaskita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raaskita.wordpress.com/2008/05/29/kucing-raas-ras-kucing-asli-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">raaskita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://raaskita.files.wordpress.com/2008/05/koceng_busok.jpg?w=170" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Perjalanan ke Pulau Putri (1)</title>
		<link>http://raaskita.wordpress.com/2008/05/28/perjalanan-ke-pulau-putri-1/</link>
		<comments>http://raaskita.wordpress.com/2008/05/28/perjalanan-ke-pulau-putri-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 11:57:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raaskita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar Raas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raaskita.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Impian Janda di tengah Ombak Ganas Raas, 1 April 2005 PULAU RAAS, menurut banyak cerita yang saya terima dari masyarakat, dikenal sebagai ‘Pulau Putri’. Hal ini disebabkan karena banyaknya janda-janda yang ditinggal mati suaminya akibat keganasan gelombang laut, saat sang suami mengarungi samudra luas guna menghidupi keluarga. Begitu pula, banyak istri-istri muda yang harus menunggu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raaskita.wordpress.com&amp;blog=3837415&amp;post=13&amp;subd=raaskita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Tahoma;">Impian Janda di tengah Ombak Ganas</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Raas, 1 April 2005</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">PULAU RAAS, menurut banyak cerita yang saya terima dari masyarakat, dikenal sebagai ‘Pulau Putri’. Hal ini disebabkan karena banyaknya janda-janda yang ditinggal mati suaminya akibat keganasan gelombang laut, saat sang suami mengarungi samudra luas guna menghidupi keluarga. Begitu pula, banyak istri-istri muda yang harus menunggu berbulan-berbulan atas kedatangan suami, yang pergi mencari nafkah di tengah laut.</span><span id="more-13"></span><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Cerita ini membuat saya tertarik, penasaran, sekaligus susah tidur pada saat malam menjelang keberangkatan mengunjungi Pulau Raas. Duduk melingkar diselingi senda tawa, minum kopi dan merokok, sembari mengingat cerita tentang Pulau Raas, membuat saya dan teman-teman Faskel berkesimpulan bahwa Pulau Raas adalah surga di tengah gelombang samudra yang dahsyat. Semuanya pun lantas berangan-angan yang indah-indah, untuk dapat tinggal lama di Pulau Raas, khususnya selama proyek. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Namun, angan-angan itu berganti kecemasan dan kekhawatiran tatkala ombrolan kecil itu mengarah pada besarnya gelombang laut yang harus dilalui dalam perjalanan dari Sumenep ke Pulau Raas. Di tengah kekalauan itu, saya mengambil peta Kabupaten Sumenep untuk melihat titik-titik rawan. Kebetulan siangnya, saya dan teman-teman Faskel menyempatkan diri ke kantor BMG guna meminta petunjuk prakiraan cuaca laut demi keselamatan perjalanan ke Pulau Raas. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Menurut keterangan pihak BMG, gelombang laut antara Sumenep dan Pulau Raas mencapai 2,5 meter serta ada 2 titik yang harus di waspadai yaitu antara Dungkek dan Pulau Giliyan, antara Giliyan dan Pulau Sepudi, antara Sepudi dan Pulau Raas. Menanti keberangkatan, tak terasa, malam pun larut dan tanpa disadari, satu persatu obrolan lenyap berganti suasana nyenyaknya tidur.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Sekitar pukul 06.00 WIB, saya bergegas bangun tidur, mandi untuk bersiap-bersiap berangkat ke Pulau Raas. Pukul 07.00, kami bersama dengan rombongan Bappeda Kabupaten Sumenep yang akan menghadiri Lokakarya P2KP Kecamatan Raas, tengah menuju pelabuhan Dungkek. Tidak seperti pelabuhan-pelabuhan lain yang saya bayangkan, pelabuhan Dungkek sangat tradisional. Semua yang bersandar adalah perahu-perahu rakyat tradisional yang serba manual. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Saya sempat membayangkan, betapa menakutkannya perjalanan ini. Laut yang luas, tekanan ombaknya yang tergolong besar, bahkan menurut BMG, perjalanan ke Raas harus melewati jalur-jalur berbahaya karena tekanan 2 samudra yang membuat pusaran berbahaya di tengah laut. Sementara, ini hanya dilalui dengan perahu tradisional yang apa adanya. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Masyarakat dan pekerja yang berlalu-lalang di pelabuhan, terlihat sibuk menaikkan barangnya ke atas perahu. Mereka nampak ceria seakan-akan lalu lintas ke Pulau Raas sebagai hal yang biasa. Mungkin mereka telah terbiasa, tidak seperti rombongan P2KP yang kala itu nampak gelisah karena kekhawatirannya sendiri. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Menurut salah satu pemilik toko pracangan di sekitar lokasi, pelabuhan Dungkek memang merupakan lalu-lintas masyarakat antara Sumenep Pulau Raas, Pulau Gilian dan Pulau Sapudi. Kebutuhan sehari-hari masyarakat Raas, Sapudi dan Gilian seperti sembako, diangkut dari pelabuhan ini oleh para pedagang. Sehingga, pelabuhan Dungkek otomatis menjadi pusat lalu lintas laut antara Sumenep, Raas, Sapudi dan Gilian. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Selain itu juga, saya kerap melihat lalu-lalang masyarakat dan kendaraan yang mengangkut barang-barang dagangan dalam jumlah sangat besar, bahkan hampir tidak seimbang dengan kondisi pelabuhan dan perahu tradisional yang ditumpangi. Saya sempat bertanya kepada salah seorang personil Bappeda, apakah ada upaya pemerintah Kabupaten Sumenep untuk membangun pelabuhan Dungkek serta menyediakan kapal yang lebih representatif. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Atas pertanyaan saya tersebut, sang personil Bappeda menjawab bahwa upaya ke arah itu sebenarnya ada mengingat semakin tingginya kebutuhan transportasi ke Raas. Namun, lanjutnya, kendala Pemerintah Daerah adalah masalah anggaran. Pembicaraan tentang ini lantas terputus karena pemilik perahu yang akan berangkat ke Raas, telah memanggil kami untuk segera naik perahu. Dengan perasaan setengah khawatir, saya menuju perahu sembari berharap, perjalanan ini akan lancar dan menyenangkan<em>. </em><em><span style="font-style:normal;font-family:Tahoma;">(<strong>Bersambung</strong>)</span></em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">(Penulis: Abdussalam, Asisten Korkot 3 Pamekasan-Sumenep KMW 16 (2/2); <em><span style="font-family:Tahoma;">Yanti</span></em>)</span></p>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;font-family:Tahoma;">(dibaca 246)</span></h2>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;font-family:Tahoma;">Sumber: </span><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;font-family:Tahoma;"><a href="http://www.p2kp.org/wartaarsipdetil.asp?mid=461&amp;catid=3&amp;"><span style="color:#000000;">http://www.p2kp.org/wartaarsipdetil.asp?mid=461&amp;catid=3&amp;</span></a></span></h2>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;font-family:Tahoma;">Akses: 28 Mei 2008</span></h2>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/raaskita.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/raaskita.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raaskita.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raaskita.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raaskita.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raaskita.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raaskita.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raaskita.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raaskita.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raaskita.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raaskita.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raaskita.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raaskita.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raaskita.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raaskita.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raaskita.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raaskita.wordpress.com&amp;blog=3837415&amp;post=13&amp;subd=raaskita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raaskita.wordpress.com/2008/05/28/perjalanan-ke-pulau-putri-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">raaskita</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
